Desinfeksi Wadah dan Media Pemeliharaan (Laporan MKOA)


Laporan Praktikum ke-2                     Hari/Tanggal          : Kamis/15 Februari 2018
m.k Manajemen Kesehatan                 Kelompok/shift     : 3/Jumat
Organisme Akuatik                             Asisten                   : Filibertus Tantio
                         
DESINFEKSI WADAH DAN MEDIA PEMELIHARAAN

Disusun oleh:
Wahyu Edwin Sanjaya
C14150083


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Penyakit ikan merupakan sesuatu yang dapat menyebabkan gangguan pada tubuh ikan secara fisik maupun fisiologis dalam jangka waktu tertentu. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti organisme lain, lingkungan ataupun campur tangan manusia maupun faktor internal seperti kondisi imun tubuh yang kurang baik dan sifat genetik ikan tersebut. Integrasi yang tidak sesuai antara tubuh ikan dan kondisi lingkungan ini yang menimbulkan daya pertahanan tubuh ikan menjadi menurun sehingga mudah sekali terserang penyakit. Faktor biotik yang dapat menyebabkan penyakit yaitu bakteri patogen, parasit patogen, cendawan, hama, predator, dan kompetitor. Ketidakseimbangan reaksi antar faktor diatas akan memperbesar kemungkinan terjangkitnya penyakit pada ikan sehingga ketiga faktor tersebut harus senantiasa dikelola dengan baik. Salah satu komoditas akuakultur yang rentan adalah ikan yang berukuran benih dan berada dilingkungan yang buruk (Yulartati 2011).
Penyakit ikan merupakan problem utama yang dihadapi oleh pembudidaya. Karena kesulitan diagnosa, implementasi penanganan dan pengobatan yang tepat serta identifikasi penyebab. Kerugian ekonomis bagi para pembudidaya cukup terasa baik karena hilangnya produksi akibat kematian dan pertumbuhan ikan yang lambat atau biaya pengobatan yang tinggi. Umumnya, stres menyebabkan turunnya kemampuan daya tahan ikan dan dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit ikan dalam sistem budidaya yang intensif. Namun demikian, stres pada ikan yang dibudidayakan bisa dihindari atau dicegah. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ikan yang sehat tidak mudah terinfeksi oleh patogen, sementara ikan yang lemah akan mudah terinfeksi. Salah satu faktor utama penyebab dari stres adalah kesalahan dalam penanganan persiapan wadah budidaya tersebut (Yulartati 2011).
Kegiatan persiapan wadah merupakan kegiatan yang awal dilakukan dalam melakukan budidaya. Media dan wadah budidaya merupakan kegiatan yang sangat penting dan memerlukan penanganan yang khusus. Wadah yang digunakan yaitu wadah yang terbebas dari agen penyakit. Namun, penyakit tidak terlepas dari wadah itu sendiri sebagai akibat dari kegiatan budidaya sebelumnya. Media yang digunakan dalam kegiatan budidaya yaitu air, air sendiri merupakan media yang digunakan dalam membantu kehidupan ikan untuk berkembangbiak, melakukan metabolisme dan tumbuh (Sakarosa 2014).
Air yang digunakan dalam media budidaya dapat menjadi sumber penyakit dan kematian massal pada ikan jika air yang digunakan tidak diperhatikan dengan baik, karena media tidak terlepas dari bakteri, parameter fisika, kimia dan biologi sehingga perlu penanganan yang khusus. Media yang baik adalah media yang terbebas dari sumber-sumber penyakit. Benih yang baik tidak akan menjadikan penentu produksi yang lebih baik atau tidak menjamin profit yangakan didapatkan sesuai dengan yang diinginkan ketika media pemeliharaan yang digunakan tidak diperhatikan serta mengandung sumber-sumber agen penyakit dari budidaya yang sebelumnya (Sari et al 2013).
 Penanganan khusus yang dilakukan dalam kegiatan awal budidaya yaitu dengan desinfeksi wadah dan media pemeliharaan. Desinfeksi merupakan proses dalam pembuangan semua mikroorganisme pathogen yang dianggap merugikan dan mempertahankan bakteri yang menguntungkan. Pada objek yang tidak hidup dengan menggunakan bahan desinfeksi yaitu dengan cara mencuci, mengoles, merendam, dan menjemur dengan maksud tujuan mencengah terjadinya infeksi dan menjaga agar alat dan bahan yang digunakan dalam keadaan yang siap pakai. Organisme patogen yang dimusnahkan yaitu yang dapat menimbulkan berbagai penyakit diantaranya yaitu bakteri, protozoa, dan virus (Sakarosa 2014).

Tujuan
Mengevaluasi efektivitas penggunaan bahan desinfeksi pada wadah dan media budidaya organisme akuatik.


METODOLOGI

Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada Jumat, 9 Februari 2018 pukul 15.00-18.00 WIB bertempat di Laboratorium Kesehatan Organisme Akuatik, Departeman Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum desinfeksi wadah yaitu toples 1,5 L, pipet ukur, bulb, spidol permanen, tissue, plastik wrap, kertas label, alat tulis, cawan petri, dan jarum ose. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu air keran, media TSA dan bahan kimia (PK, Klorin dan MB).

Prosedur Kerja
Pengujian ini dilakukan secara aseptik untuk menghindari kontaminasi dari selain wadah dan media air pengujian. Teknik aseptik dikerjakan dengan bantuan akohol 70% untuk area kerja dan tangan serta api bunsen untuk proses penggoresan. Pengujian dilakukan menggunakan satu toples kosong sebagai representasi wadah dan satu toples berisi air keran 1 liter sebagai representasi media air. Selain itu, dua media TSA dalam cawan petri yang sudah disiapkan dibagi menjadi dua kuadran, kuadran kiri untuk pengujian sebelum desinfeksi dan kuadran kanan untuk pengujian sesudah desinfeksi. Penggoresan kuadran kiri dilakukan di awal pengujian. Untuk wadah, jarum ose digoreskan secara acak pada seluruh sisi dalam toples lalu digoreskan pada media. Sedangkan untuk air keran, jarum ose dicelupkan lalu digoreskan pada media.
Pengujian selanjutnya adalah penggoresan dari wadah dan media yang telah didesinfeksi dengan dosis dan waktu tertentu. Kelompok 3 menggunakan desinfektan klorin dengan dosis 30 ppm dengan durasi waktu 10 menit. Setelah desinfektan tercampur rata, basahi sisi dalam toples representasi wadah dengan air yang telah didesinfeksi. Kedua toples didiamkan selama 30 menit. Selanjutnya dilakukan penggoresan kuadran kanan dari toples dan air yang telah didesinfeksi. Kedua media yang telah digores kemudian ditutup rapat dengan plastik wrap dan diberi label informasi. Media diinkubasi selama 24 jam untuk kemudian diamati secara kualitatif banyaknya koloni mikroorganisme yang tumbuh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
            Berikut ini merupakan hasil dari desinfeksi wadah dan media pemeliharan dengan menggunakan bahan kimia yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1  Hasil desinfeksi wadah dan media pemeliharaan menggunakan bahan kimia
Kelompok

Hasil
Perlakuan
Air
Kering

Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
1
PK 30 ppm
+
(1)
-
++
(1)
-
2
MB 30 ppm
++
(3)
+
(2)
++
(5)
+
(8)
3
Klorin 30 ppm
+
(1)
-
+
(1)
+
(1)
4
PK 15 ppm
+
(3)
+
(1)
-
+
(1)
5
MB 15 ppm
+
(2)
-
++
(6)
-
6
Klorin 15 ppm
+
(5)
+
(4)
-
+
(54)
                Keterangan           : ++ (terdapat banyak koloni bakteri)  
                                                   +   (terdapat koloni bakteri)
                   -    (tidak terdapat koloni bakteri)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa yang terdapat banyak koloni bakteri pada wadah yaitu pada perlakuan kelompok 1, 2 dan 5 khusunya pada perlakuan wadah yang kosong (kering) tanpa media air. Sedangkan hasil yang menunjukan bahwa tidak terdapat koloni bakteri yaitu pada kelompok 1, 3 dan 5 khususnya pada perlakuan menggunakan media air, dan pada kelompok 1, 4, 5, dan 6 pada perlakuan kering. Sedangkan jumlah koloni bakteri terbanyak terdapat pada kelompok 6 dengan perlakuan kering yaitu sebanyak 54 koloni bakteri.
               
Gambar 1. Wadah
                 











Gambar 2. Media
-Kontrol : tanpa perlakuan
-3B: Perlakuan desinfeksi klorin 30 ppm waktu 10 menit.
- Kontrol : tanpa perlakuan
-3A: Perlakuan desinfeksi klorin 30 ppm waktu 10 menit.

















Pembahasan
Desinfeksi wadah dan media pemeliharaan untuk ikan penting dilakukan sebelum dipakai dalam kegiatan budidaya. Tujuannya untuk mencegah sumber patogen penyebab penyakit tidak masuk dalam media budidaya. Salah satu cara yang digunakan dalam desinfeksi yaitu ozonasi. Bahan kimia yang umum digunakan dalam desinfeksi yaitu klorin, kalium pemangat dan kaporit. Dalam menciptakan kondisi bebas sehingga menggunakan metode desinfeksi baik secara biologi, fisika, kimia maupun kombinasinya, sehingga ikan yang dibudidayakan dapat hidup dalam lingkungan yang baik dan terbebas dari adanya agen penyakit yang dapat mengakibatkan produksi akan menjadi turun (Al-khafagy 2015).
Desinfeksi digunakan dengan menggunakan bahan desinfeksi melalui cara mencuci, mengoles, merendam dan menjemur dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mengkondisikan alat dalam keadaan yang siap untuk digunakan sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya. Beberapa jenis desinfeksi yang sering digunakan dalam kegiatan budidaya yaitu ozon, klorin, formalin dan kaporit serta methylen blue. Klorin memiliki unsur yang dapat berikatan dengan unsur yang lainnya. Apabila dosis yang digunakan berlebihan atau melewati batas normal akan memiliki dampak negatif pada media budidaya. Hal tersebut dapat terjadi akibat klorin dapat bereaksi dengan senyawa organik yang ada disekitarnya (Setiawan et al. 2013).
Methylene blue (MB) adalah desinfektan yang umum digunakan untuk ikan hias. Senyawa ini tergolong pewarna redoks yang memacu peningkatan konsumsi oksigen tingkat sel. Efek theurapeutic (mematikan) bakteri dan parasit karena efek pengikatan senyawa ini dengan struktur sitoplasma dan interferensi proses oksidasi-reduksi sel. Senyawa MB efektif digunakan untuk mendesinfeksi agen ichthyophthiriosis, velvet disease, costiasis dan skin-gill flukes. Selain itu, MB juga efektif untuk membunuh infeksi superfisial jamur. Alam et al. (2011) telah menguji efek antibakterial senyawa ini. Pada dosis 5-6 ppm mampu menghambat pertumbuhan Aeromonas sp. dan Pseudomonas fluorescens pada pengujian in vitro. Supriyadi dan Rukyani (2008) menyarankan penggunaan MB untuk membunuh protozoa dan fungi pada dosis 1-2 ppm melalui metode long bath. Hasil pengujian menunjukkan bahwa desinfeksi wadah dan media air berhasil menurunkan populasi mikroorganisme agen patogen pada dosis 30 ppm.
PK merupakan nama dagang untuk kalium permanganat (KMnO4) yang tergolong agen oksidasi kuat yang akan bereaksi dengan bahan organik dalam air, termasuk alga, bakteri, ikan, partikel dan bahan organik terlarut serta sedimen senyawa organik. Senyawa ini telah lama digunakan dalam akuakultur untuk menangani agen patogen ikan, seperti parasit insang dan infeksi eksternal bakteri dan jamur. Namun, senyawa ini diketahui dapat menurunkan konsentrasi DO (Dissolved Oxygen) air sehingga mampu mengurangi kepadatan alga di perairan (Lazur dan Yanong 2013). Penggunaan kalium permanganat sebagai desinfektan disarankan pada dosis 40 ppm (Supriyadi dan Rukyani 2008). Namun untuk treatmen air dan ikan yang terinfeksi penyakit bacterial seperti Aeromonas hydrophila dan Vibrio spp., dosis yang disarankan adalah 100 –1000 ppm dengan waktu papar 15 menit (Stratev dan Vashin 2014). Pengujian yang telah dilakukan menunjukkan desinfeksi wadah dan media dengan dosis 30 ppm dan waktu 30 menit menunjukkan keberhasilan desinfeksi. Alam et al. (2011) melaporkan bahwa kalium permanganat pada dosis 15, 20 dan 30 ppm tidak mampu membunuh agen mikroorganisme patogen.
Kalium pemangat termasuk oksidator yang dapat mengoksidasi bahan organik, dengan demikian semakin banyak kalium pemangat yang digunakan akan semakin tinggi kandungan bahan prganik yang terdapat pada sampel tersebut. Bahan organik yang teroksidasi akan membuat elektron lepas dan akan ditangkap oleh MnO4. Penggunaan methylen blue sebagai bahan desinfeksi tidak baik karena dosis yang diberikan akan mengakibatkan bakteri akan tumbuh. Hal ini diakibatkan karena dapat menurunkan populasi di dalam air dan menurunkan terjadinya infeksi sekunder pada media budidaya yang digunakan (Queiroz et al 2013).
Desinfektan klorin efektif melawan banyak agen patogen umum dari bakteri, virus, parasit dan fungi. Namun klorin sangat korosif terhadap logam dan dapat merusak kulit manusia juga membran mukus. Permasalahan yang sering terjadi adalah residu klorin yang tersisa dari kegiatan desinfeksi peralatan produksi akuakultur dapat membunuh organisme kultur. Residu ini harus dinonaktifkan dengan sodium tiosulfat. Yanong dan Eracher-Reid (2012) melaporkan bahwa penggunaan klorin banyak digunakan dalam desinfeksi alat produksi di hatchery udang dengan dosis 200-500 ppm dengan waktu papar 10-60 menit. Wadah dan peralatan lainnya selanjutnya harus dicuci dengan larutan sodium tiosufat dengan perbandingan 7:1. Hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa desinfeksi wadah dan media dengan klorin pada dosis 10 dan 30 ppm hanya mampu mengurangi populasi mikroorganisme agen patogen. Perlu peningkatan dosis hingga 200 ppm untuk dapat mensucihamakan wadah dari seluruh populasi mikroorganisme (Yanong dan Eracher-Reid 2012).
Berdasarkan hasil yang didapatkan pada praktikum dapat dikatakan bahwa pada wadah dan media, penggunaan methylen blue (MB) dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri yang lebih banyak dibandingkan dengan klorin dan kalium pemangat (PK). Pada wadah toples yang tidak tumbuh bakteri yaitu terdapat pada PK 30 ppm dengan waktu 10 menit, PK 15 ppm dengan waktu 10 menit, MB 15 ppm dengan waktu 10 menit, dan klorin 15 ppm dengan waktu 10 menit. Sedangkan media air dalam toples yang tidak tumbuh terdapat pada PK 30 ppm dengan waktu 10 memit, klorin 30 ppm dengan waktu 10 menit, dan MB 15 ppm dengan waktu 10 menit. Berdasarkan hasil yang didapat rata-rata bakteri yang tidak tumbuh pada waktu 10 menit sehingga waktu juga mempengaruhi kerja dari bahan kimia tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu bahan dan dosis yang digunakan dapat menyebabkan kerja desinfeksi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa desinfeksi wadah dan media yang dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti klorin, kalium permanganat, dan methylen blue memiliki keefektifan yang berbeda-beda. Bahan kimia yang efektif selama praktikum yaitu dengan menggunakan kalium permanganat.

Saran
Pada praktikum selanjutnya menggunakan bahan kimia lain seperti ozonasi dan formalindengan dosis dan waktu yang berbeda agar mengetahui bahan desinfeksi yang efektif dalam kegiatan budidaya.


DAFTAR PUSTAKA
Alam M, Rahman MM, Foysal MJ, Hossain MN. 2011. Determination of lethal concentration and antibacterial activity of commonly used disinfectants. International  Journal National Science. 1(4): 102-106.
Al-khafagy MT. 2015. The effect of natural desinfectant solutions on dimensional stability of silicon impression material. Chemistry and Material Research. 7(9):93-108.
Lazur AM, Yanong RPE. 2013. The use of potassium permanganate in fish pond.  IFAS Extension FA 32. 3 hal.
Sakarosa IK. 2014. Efektivitas desinfeksi media budidaya ikan bersalinitas 0 ppt dan 3 ppt menggunakan aliran listrik 10 volt dengan lama perlakuan waktu berbeda terhadap total bakteri. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sari DF, Parnaadji RR, Sumono A. 2013. Pengaruh teknik desinfeksi dengan berbagai macam larutan desinfektan pada hasil cetakan alginat terhadap stabilitas dimensional. Jurnal Pustaka Kesehatan. 1(1): 29-34.
Setiawan D, Sibarani J, Suprihatin IE. 2013. Perbandingan efektifitas desinfektan kaporit, hidrogen peroksida, dan pereaksi fenton (H2O2/Fe2+). Cakra Kimia. 1(2): 16-24.
Stratev D, Vashin I. 2014. Aeromonas hydrophila sensitivity to disinfectants.  Journal of Fisheries Science. 8(4): 324-330.
Supriyadi H, Rukyani A. 2008. The use of chemicals in aquaculture in Indonesia. Proceeding of the Meeting on the Use of Chemicacls in Asia 1996. Hal. 113-118.
Queiroz DA, Pecanha MM, Neves ACC, Tonetto RT, Concilio LRS. 2013. Influence of desinfection with paracetic acid and hypochloritein dimensional alterations of catsts obtained from addition silicone and polyether impressions. The Journal of Contempory Dental Practice. 14(6): 1100-1105.
Yanong RPE, Erlacher-Reid C. 2012. Biosecurity in aquaculture, part 1: an overview. SRAC Publication No. 4707. 16 hal.
Yulartati E. 2011. Tingkat serangan ektoparasit pada ikan patin (Pangasius djambal) pada beberapa pembubidaya ikan di Kota Makassar. [Skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanuddin.









Komentar