Laporan Praktikum ke-9 Hari/Tanggal : Kamis/30
November 2017
m.k Penyakit Organisme Akuatik Kelompok/Shift : 12/Siang
Asisten :Mamluatun Nurrohmah
Disusun oleh:
Wahyu Edwin Sanjaya
C14150083
DEPARTEMEN
BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit ikan merupakan sesuatu yang dapat menyebabkan
gangguan pada tubuh ikan secara fisik maupun fisiologis dalam jangka waktu
tertentu. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti organisme
lain, lingkungan ataupun campur tangan manusia maupun faktor internal seperti kondisi
imun tubuh yang kurang baik dan sifat genetik ikan tersebut. Integrasi yang
tidak sesuai antara tubuh ikan dan kondisi lingkungan ini yang menimbulkan daya
pertahanan tubuh ikan menjadi menurun sehingga mudah sekali terserang penyakit.
Faktor biotik yang dapat menyebabkan penyakit yaitu bakteri patogen, parasit
patogen, cendawan, hama, predator, dan kompetitor. Ketidakseimbangan reaksi
antar faktor di atas akan memperbesar kemungkinan terjangkitnya penyakit pada
ikan sehingga ketiga faktor tersbut harus senantiasa dikelola dengan baik.
Salah satu komoditas akuakultur yang rentan adalah ikan yang berukuran benih
dan berada dilingkungan yang buruk seperti ikan lele (Yulartati 2011).
Darah merupakan sebuah cairan yang terdapat dalam tubuh
ikan yang dapat berfungsi sebagai agen pengangkut zat-zat makanan dalam tubuh,
pengangkut oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan bahan
kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap gangguan
luar tubuh, seperti virus maupun bakteri. Gambaran
darah merupakan salah satu parameter yang menjadai indikator adanya perubahan
kondisi kesehatan ikan baik akibat faktor
infeksi (mikroorganisme) atau faktor
non infeksi (lingkungan, nutrisi, dan
genetik). Hal ini dikarenakan bahwa darah
membawa segala hal yang akan disalurkan ke organ dan membawa kembali beberapa
dari sisa metabolisme, seperti CO2 yang merupakan buangan dari
sistem respirasi (Hartika et al. 2014).
Dalam usaha budidaya lobster air tawar, ada 3 spesies
dari genus Cherax yang dapat dikembangbiakkan secara ekonomis, baik ditinjau
dari penyediaan spesies udang hias air tawar maupun udang konsumsi, yakni
lobster air tawar capit merah atau redclaw (Cherax qudricarinatus), yabbie
(Cherax destructor), dan marron ( Cherax tenuimatus). Lobster air
tawar yang berasal dari family Astacidae, Cambaridae, dan Parastacidae,
menyebar di semua benua. Family Astacidae banyak hidup di perairan bagian barat
Rocky Mountains di barat laut Amerika Serikat sampai Kolombia, Kanada, dan juga
di Eropa. Di Indonesia, terutama di Jayawijaya (Papua), hidup beberapa spesies
dari family Parastacidae antara lain Cherax monticola, Cherax lorentzi,
Cherax comunis, Cherax papuana, dan Cherax wasseli. Begitu juga dengan
Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis) adalah salah satu kijing yang
dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pangan dari hasil perairan. Kijing ini
banyak ditemukan di danau dan perairan tawar lainnya. Hewan ini berbentuk simetris
bilateral yang terdiri dari dua cangkang. Bila dilihat dari luar cangkangnya
berwarna hijau kebiru-biruan atau kecoklat-coklatan dengan bercak putih (Listiya et al. 2013).
Kebanyakan dari permbudiaya terlambat untuk mengetahui
komoditas mereka seperti ikan, ataupun udang telah terserang suatu penyakit.
Hal tersebut dikarenakan beberapa penyakit tidak menunjukkan gejala awal yang
langsung terlihat secara kasat mata. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk
mendeteksi kelainan atau penyakit pada komoditas budidaya yaitu dengan analisis
histopatologi melalui gambaran darah atau hematologi. Identifikasi keberadaan
penyakit dapat dilakukan secara konvensional dan molekuler. Pemeriksaan
penyakit infeksius dapat dilakukan secara molekuler yang didukung dengan
pengetahuan tentang histopatologis (gambaran melintang jaringan tubuh),
gambaran darah, dan immunologis
(konsentrasi antibodi/antigen). Oleh karena itu, pengetahuan akan gambaran
darah sangat penting untuk mempelajari dan menganalisa status atau kesehatan
komoditas akuakultur yang akan memengaruhi kegiatan budidaya (Yulartati 2011).
Tujuan
Praktikum bertujuan
untuk mengetahui status kesehatan crustacea dan mollusca melalui gambaran darah
total hymocte count (THC).
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Senin, 20 November 2017 pukul 12.20-15.00
WIB bertempat di Laboratorium Kesehatan Organisme
Akuatik, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.
Alat
dan Bahan
Alat-alat yang digunakan
dalam praktikum ini yaitu alat suntik (syringe), , baki, alat tulis, gelas
obyek, gelas tutup (cover glass),
mikrotube, hemasitometer, mikroskop, dan tisu.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah lobster,
kijing, antikoagulan
(Na-sitrat 3,8%), HCl.
.
Prosedur
Total Hymocyte Count Crustacea
Tahap pertama yang
harus dilakukan yaitu lobster diambil darahnya dengan menggunakan syiringe.
Darah lobster yang telah terkumpul kemudian diambil dengan syringe yang
sebelumnya telah dibilas dengan
antikoagulan sebanyak 0.1
ml, lalu dihomogenkan
selama lima menit. Setelah homogen, tetesan pertama
dibuang, sisa darah yang ada di dalam
syringe diteteskan di atas
hemasitometer untuk diamati
di bawah mikroskop. Hasil perhitungan kemudian dimasukkan ke
dalam rumus berikut :
Total
Hymocyte Count Mollusca
Tahap pertama yang harus dilakukan yaitu Kijing
diambil darahnya dengan
menggunakan syiringe. Darah
kijing yang telah terkumpul
kemudian diambil dengan syringe,
lalu dihomogenkan selama
lima menit. Setelah homogen,
tetesan pertama dibuang, sisa darah yang
ada di dalam syringe diteteskan di atas
hemasitometer untuk diamati
di bawah mikroskop. Hasil perhitungan kemudian dimasukkan ke
dalam rumus berikut :
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Berikut ini merupakan hasil gambaran darah pada lobster air tawar (Procambarus clarkii) dan kijing (Pilsbryoconcha exilis)
pada masing-masing kelompok yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini..
Tabel
1 Hasil gambaran darah
lobster air tawar (Procambarus clarkii) dan kijing (Pilsbryoconcha
exilis)
Kelompok
|
Lobster
x 106 (sel/ml)
|
Kijing
x 106
(sel/ml)
|
1
|
12,3
|
1,4
|
2
|
4,8
|
2,1
|
3
|
2,82
|
0,9
|
4
|
2,77
|
0,9
|
5
|
14,1
|
2,3
|
6
|
9,16
|
6,05
|
7
|
16,7
|
3,7
|
8
|
14,25
|
3,15
|
9
|
3,15
|
3,9
|
10
|
15,15
|
2,95
|
11
|
2,71
|
1,1
|
12
|
7,35
|
1,75
|
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada praktikum ini
menunjukkan bahwa nilai THC lobster tertinggi yaitu 16,7×106sel/ml yang
diperoleh oleh kelompok 7 sementara THC lobster terendah yaitu 2,71×106sel/
ml yang diperoleh oleh kelompok 11. Nilai
THC kijing tertinggi
yaitu 6,05×106 sel/ml
pada kelompok 6 dan yang terendah yaitu 0,9×106sel/ml pada kelompok
3 dan 4.
Pembahasan
Lobster air tawar
termasuk kelompok udang air tawar yang siklus hidupnya hanya di air tawar.
Lobster air tawar memiliki habitat asli di Australia yang kemudian menyebar ke
berbagai belahan bumi. Lobster ini diikelompokkan ke dalam tiga famili
berdasarkan daerah penyebarannya, yaitu Famili Astacidae dan Cambridae yang
tersebar di belahan bumi utara serta Parastacidae yang tersebar di belahan bumi
selatan. Lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus) termasuk ke dalam keluarga Parasticidae. Selain sebagai
lobster konsumsi, lobster air tawar juga cocok dijadikan lobster hias karena
memiliki keunggulan pada bentuk dan warna tubuhnya (Efendy et al,
2014).
Lobster termasuk
kedalam krustasea. Lobster
air tawar memiliki
sistem peredaran darah terbuka. Selain itu
sistem peredaran darah
yang dimiliki lobster dalam
komponennya tidak memiliki
pembuluh darah baik
vena atau arteri
untuk mengalirkan darahnya. Darah yang terdapat dalam tubuhnya dipompa
oleh jantung langsung ke seluruh
tubuh. Tidak seperti ikan yang
memiliki hemoglobin pada darahnya, darah lobster air
tawar tidak mengandung
hemoglobin melainkan mengandung
hemosianin yang daya ikat terhadap oksigennya rendah. Bagian darah lobster air
tawar yang berperan
sebagai pertahanan tubuh
internal yaitu hemosit. Adapun sistem imun pada crustase ini
terdiri dari reaksi selular dan humoral yang berhubungan dengan
hemolim. Crustase juga tidak
membentukan antibodi untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Salah satu
parameter yang berkaitan
dengan sistem imun crusrase yaitu total
haemocyte count (THC) (Efendy et al,
2014).
Mekanisme pertahanan
krustasea bersifat non spesifik atau tidak dapat mengembangkan sistem kekebalan
spesifik dimana memorinya sangat lemah dibandingkan dengan vertebrata tingkat
tinggi lainnya yang memiliki antibodi spesifik atau komplemen. Invertebrata seperti
udang tidak memiliki immunoglobin yang berperan dalam mekanisme kekebalan
tubuh. Krustasea memiliki respon imunitas yang meliputi respon seluler dan
humoral yang bersifat nonspesifik. Sistem pertahanan selular meliputi fagosit
sel-sel hemosit, nodulasi, dan enkapsulasi (Febriani
et al.
2013). Mekanisme pertahanan pada krustasea sebagian besar bergantung pada sel
darah dan proses hemolim. Darah udang tidak mengandung haemoglobin, sehingga
darahnya tidak berwarna merah. Peran haemoglobin digantikan oleh haemosianin
yaitu suatu protein mengandung Cu yang
memiliki fungsi untuk transport oksigen dan sebagai buffer dalam krustasea.
Hemosit memiliki peranan yang sangat penting pada sistem pertahanan tubuh. Sistem imun lobster meliputi reaksi selular dan humoral
yang terkait dengan hemolymph lobster. Beberapa parameter imun yang
berhubungan dengan hemolimph seperti perhitungan total haemocyte (THC), diferensial
haemocyte count (DHC), aktivitas fagositosis (AP) dan aktivitas phenoloxydase
(PO) telah digunakan untuk evaluasi pengaruh imunostimulator pada crustasea
(Li et al. 2008).
Kijing merupakan hewan yang hidup
di dasar perairan dan makan dengan cara menyaring makanan yang ada di dalam air
juga terdapat di dalam organ-organ seperti insang, ginjal, dan hati, sehingga
poluan yang ada didalam air dapat dilihat dari kandungannya didalam organ
tersebut. Hewan ini berbentuk simetris bilateral yang terdiri dari dua
cangkang. Bila dilihat dari luar cangkangnya berwarna hijau kebiru-biruan atau
kecoklat-coklatan dengan bercak putih. Hewan ini tergolong filter feeder yaitu
jenis hewan yang mendapatkan makanan dengan jalan menyaring air yang masuk ke
dalam tubuhnya. Alat pencernaannya berturut-turut terdiri dari mulut yang tidak
berahang atau bergigi, sepasang labial palps yang
bercilia, oesofagus, lambung, usus, rektum, dan anus. Selain alat pencernaan,
di dalam tubuh kerang terdapat pula hati yang menyelubungi dinding lambung,
ginjal, pembuluh darah, dan pembuluh urat saraf (Lorenzen dan Lapatra 2015).
Hemosit memegang peranan penting dalam respon seluler
pertahanan tubuh udang yang meliputi fagositosis, enkapsulasi, melanisasi,
cytotoksisitas, dan komunikasi antar sel. Berdasarkan ada tidaknya granula
sitoplasma, hemosit dibagi menjadi 3 jenis yaitu sel hialine,
semigranular, dan granular.
Sel hialine berfungsi untuk proses fagositosis dan
aktifitas lainnya seperti halnya
makrofage pada ikan.
Sel ini memiliki sedikit sekali
granula pada sitoplasmanya. Semi granular berfungsi untuk mengenali dan
merespons partikel unsur atau molekul yang tidak dikenali. Adapun granular
memiliki fungsi untuk mengaktifkan proses proPO. Perubahan ketiga sel tersebut dapat
dijadikan sebagai gambaran
atau status kesehatan
crustacea dan moluska. Sistem
imun crustase dan
moluska yang meningkat dilihat dari meningkatnya jumlah hemosit. Sedangkan apabila jumlah
hematosit meningkat, maka kemampuan
dalam fagositosis dan
segala tahapan pertahanan
tubuh dari antigen akan bertambah
sehingga crustacea dan moluska akan dapat bertahan dari patogen (Ekawati et al. 2012).
Fagositosis merupakan
salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang terdapat pada udang. Proses
fagositosis dimulai dengan perlekatan dan penelanan partikel mikroba ke dalam
sel fagosit. Sel fagosit kemudian membentuk vakuola pencernaan yang disebut
fagosom. Lisosom (granula dalam sitoplasma fagosit) kemudian menyatu dengan
fagosom dan membentuk fagolisosom. Selanjutnya mikroorganisme dihancurkan dan debris mikroba dikeluarkan dari dalam
sel melalui proses egestion.
Pemusnahan partikel mikroba yang difagosit melibatkan pelepasan enzim ke dalam
fagosom dan produksi ROI (Reactive Oxygen
Intermediate) yang kini disebut Respiratory
Burst (Febriani et al. 2013).
Hasil dari praktikum yang telah dilakukan, nilai THC
lobster tertinggi yaitu 16,7×106sel/ml
yang diperoleh oleh kelompok 7 sementara
THC lobster terendah yaitu 2,71×106sel/
ml yang diperoleh oleh kelompok 11.
Menurut Satheeshkumar et
al (2012) nilai THC pada lobster yang sehat berada pada angka 5,6 ± 0,7 x 103
sel/mm3. Sampel darah yang melebihi nilai dari literatur diduga
karena lobster memiliki tingkat stres yang cukup tinggi sehingga meningkatkan
nilai dari THC. Selain itu nilai THC terendah diduga tidak memproduksi hemosit
dalam jumlah besar sehingga nilai THC sangat rendah di bawah nilai THC lobster
normal. Nilai THC kijing tertinggi yaitu 6,05×106
sel/ml pada kelompok 6 dan yang terendah yaitu 0,9×106sel/ml pada
kelompok 3 dan 4. Menurut Delaporte (2013),
nilai THC pada bivalvia adalah 6,4±2,2 x 105 sel/ml. Nilai THC yang
berada di atas kisaran tersebut diduga sedang memproduksi pertahanan tubuh dalam
jumlah banyak akibat adanya serangan patogen. Selain itu, nilai THC yang rendah
pada beberapa sampel kijing pengamatan diduga karena adanya serangan patogen
serta tingkat kesetresan yang tinggi.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Pengamatan gambaran
darah lobster dan moluska yang telah dilakukan menunjukkan terdapat beberapa
kelompok yang memiliki kisaran THC normal menurut literatur, sedangkan pada sampel
darah yang memiliki THC rendah diduga lobster dan kijing telah terserang
patogen dan memiliki tingkat kesetresan yang tinggi sehingga tidak dapat meningkatkan
daya imunitas tubuh, karakteristik dan
fungsi tertentu di
mana tiap-tiap komponen
dapat memberi informasi mengenai
status kesehatan lobster
dan kijing. Berdasarkan hasil
yang diperoleh lobster yang diamati dalam keadan sakit dan kijing dalam
keadaan sehat.
Saran
Praktikum
selanjutnya diharapkan dapat menggunakan jenis crustacea dan moluska lainnya yang berbeda pada beberapa
kelompok dan dibuat dalam ulangan seperti dalam rancangan percobaan sehingga
dapat digunakan sebagai pembanding antar spesies dan dapat mengetahui variasi kadar THC yang terkandung.
DAFTAR
PUSTAKA
Delaporte M. 2013. Effect of a mono-specific algal diet on immune functions
in two bivalve species–Crassostrea gigas
and Ruditapes philippinarum. Journal of Experimental Biology. 20(6):
11-21.
Effendy S, Alexander R, Akbar T. 2014. Peningkatan
haemosit benur udang windu (Penaeus
monodon Fabricus) pasca perendaman ekstrak ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) pada konsentrasi yang berbeda. Jurnal Sains dan Teknologi. l4(2):
46-53.
Ekawati AW, Nursyam H, Widjayanto E, Marsoedi. 2012.
Diatome Chaetoceros dalam formula
pakan meningkatkan respon imun seluler udang windu (Penaeus monodon Fab.). Jurnal
Exp. Life Science. 2(1): 20-28.
Febriani D, Sukenda,
dan Nuryati S. 2013. Kappa-Karragenan sebagai Immunostimulan untuk
pengendalian penyakit infectious myonecrosis (IMN) pada udang vanamei (Litopenaeus vannamei). Jurnal Akuakultur Indonesia. 12(1):
55-70
Hartika R,
Mustahal, Putra A. 2014. Gambaran darah
ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan penambahan dosis prebiotik yang
berbeda dalam pakan. Jurnal Perikanan
dan Kelautan. 4 (4): 259-267.
Li CH,
Yeh ST, Chen JC. 2008. The Immune response of white shrimp Litopenaeus
vannamei following Vibrio alginolyticus injection. Fish and
Shellfish Immunology. 25:853-860.
Listiya GL,
Arfiati D, Maizar A. 2013.
Pengamatan jaringan lambung kijing taiwan (Anodonta
woodiana Lea) yang terdedah pestisida diazinon 60 EC pada beberapa
konsentrasi. J. Exp. Life Sci. (3)2: 19-27.
Lorenzen N, Lapatra SE .2015. DNA vaccines for
aquacultured fish. Rev Sci Tech supl.
24(1): 201-213.
Satheeshkumar P,
Ananthan G, Kumar GS, Jagadeesan L. 2012. Haematology and biochemical
parameters of different feeding behaviour of teleost fishes from Vellar estuary. Comparative Clinical Pathology. 21(1):187−1.191.
Yulartati E. 2011. Tingkat serangan ektoparasit pada ikan patin (Pangasius djambal) pada beberapa pembubidaya ikan di Kota Makassar.
[Skripsi]. Makassar (ID): Universitas Hasanuddin.

Komentar
Posting Komentar